Rahasia 'Kalong' Bos Google DeepMind: Baru Bisa Fokus Jam 1 Pagi Demi Ciptakan AI Super Pintar!

Bang Tekno

Halo Sobat Nongkrong! Balik lagi bareng Bang Tekno.

Buat kamu yang sering ngerasa otak baru bener-bener "nyala" dan dapet pencerahan pas lagi maraton ngerjain project aplikasi atau mendalami materi bootcamp sampai larut malam, tenang aja, kamu nggak sendirian! Ternyata, kebiasaan jadi "kalong" alias makhluk nokturnal ini juga dimiliki oleh salah satu orang paling jenius di bumi saat ini: Demis Hassabis, sang CEO Google DeepMind.

Di saat kebanyakan eksekutif dunia menyarankan kita untuk bangun jam 5 pagi demi produktivitas, Demis justru mematahkan stereotip tersebut. Pria yang memimpin revolusi Kecerdasan Buatan (AI) global ini mengaku bahwa ide-ide paling gilanya justru lahir saat jarum jam menunjuk angka 1 dini hari. Yuk, kita intip rahasia dapur dari sang maestro AI dunia ini!


🌗 Siklus Kerja Ganda: 'Siang Jadi Bos, Malam Jadi Ilmuwan'

Untuk mengelola perusahaan teknologi paling mutakhir di dunia, Demis membagi 24 jamnya ke dalam dua fase ekstrem. Pada siang hari, ia mengenakan "topi" seorang CEO. Waktunya habis untuk rapat manajerial, memimpin tim, dan mengambil keputusan strategis perusahaan.

Namun, saat matahari terbenam dan kantor mulai sepi, ia bertransisi kembali menjadi seorang ilmuwan. Fase riset dan kerja kreatifnya baru benar-benar dimulai dari malam hingga dini hari. Pola dua alam ini secara konsisten ia jalankan selama satu dekade sejak mendirikan DeepMind, yang akhirnya sukses diakuisisi oleh Google pada tahun 2014 (sebuah sejarah epik di mana ia bahkan sempat menolak tawaran akuisisi dari Mark Zuckerberg demi Google!).

🚀 Tekanan Inovasi yang Berbuah Nobel Kimia 2024

Gaya hidup ekstrem ini bukan tanpa alasan. Persaingan teknologi AI saat ini bergerak sangat brutal. Pada tahun 2023, Google mengambil langkah radikal dengan menggabungkan dua tim raksasa mereka—DeepMind dan Google Brain—menjadi Google DeepMind yang sepenuhnya dipimpin oleh Demis.

Selain mengurus integrasi AI untuk seluruh produk Google, ia juga memimpin Isomorphic Labs, sebuah proyek yang menggunakan AI untuk merevolusi penemuan obat-obatan baru. Dedikasi gila di tengah keheningan malam inilah yang pada akhirnya membawa Demis Hassabis meraih penghargaan paling bergengsi di dunia: Penghargaan Nobel Kimia 2024 berkat kontribusinya memecahkan struktur protein menggunakan AI (AlphaFold).

⚖️ Antara Performa Dewa dan Risiko Kesehatan

Sebagai orang yang sangat rasional, Demis sadar betul bahwa pola tidurnya yang hanya bertahan sekitar enam jam per hari ini secara medis sangat tidak ideal bagi kesehatan. Namun, tekanan untuk terus berada di garis depan inovasi memaksanya berkompromi.

Pendekatan ini sangat mirip dengan gaya hidup bos teknologi lain seperti Elon Musk, yang juga rela memangkas waktu istirahatnya hingga batas minimum demi menjaga momentum produktivitas. Bagi Demis, keheningan jam 1 pagi adalah "ruang sakral" di mana ia bisa berpikir jernih tanpa ada interupsi notifikasi *email* atau *meeting* mendadak.


🏁 Kesimpulan: Jangan Asal Tiru Kalau Fisik Nggak Kuat!

Kisah Demis Hassabis membuktikan bahwa tidak ada satu pun formula sukses yang baku untuk semua orang. Buat sebagian orang, inspirasi memang baru datang di saat dunia tertidur lelap. Namun, yang perlu digarisbawahi, pengorbanan waktu tidur ini diimbangi dengan karya nyata yang mengubah sejarah peradaban manusia.

Keep smart, know your limits, & stay update bareng Teknongkrong!

Komentar